Keadilan Energi dari Listrik Pohon Kedondong




PELANGIWARNA.COM _ ,LANGSA - Selama bertahun-tahun puluhan siswa  Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur hanya mengandalkan genset dan lampu teplok untuk menerangi asrama dan ruang belajar mereka, khususnya di malam hari. Listrik PLN sama sekali belum masuk ke desa. Hingga akhirnya, di pertengahan tahun 2016, hadirlah listrik dari pohon kedondong yang ditemukan anak laki-laki berusia 14 tahun, Naufal Raziq. Meski kehadiran listrik pohon kedondong sempat mengundang kontroversi, tapi setidaknya mereka sudah pernah merasakan keadilan energi bersama dengan daerah-daerah lain yang sudah terang benderang. Seperti apa kisahnya?

RAUT sumringah menyertai wajah Naufal saat namanya dipanggil untuk naik ke pentas perayaan puncak Acara Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (23/7/2018). Sesekali senyumnya mengembang saat menerima penghargaan, meningkahi tepuk tangan ribuan anak dan undangan yang hadir di lokasi terbuka tersebut.

Hari itu Naufal sedang begembira. Dirinya mendapat penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai anak yang GENIUS (Gesit – Empati – BeraNI – Unggul – dan Sehat). Listrik alternatif dari pohon kedondong pagar (spondias dulcis forst) yang ia temukan tahun 2015 atau saat dirinya masih berusia 14 tahun dinilai mewakili karya anak-anak GENIUS.

Naufal tak sendirian bergembira saat itu. Ada empat anak lainnya dari seluruh Indonesia yang turut menerima penghargaan yakni Kiyoshi Natanael (6 tahun/Kalimantan Timur) yang menguasai 180-an rumus kimia dan kemampuan membaca peta buta, Dedy Mizwar (8 tahun/Jawa Timur) yang jago puisi dan drama, Elmi (16 tahun/Nusa Tenggara Barat) yang ahli memotivasi anak-anak untuk tidak putus sekolah, dan Infar (12 tahun/Jawa Timur) yang merupakan atlet tenis lapangan berprestasi.

“Naufal senang sekali karena karya Naufal diperhatikan oleh pemerintah. Meski di atas pentas tak lama, hanya lima menit, tapi Naufal masih sempat bercerita tentang listrik pohon kedondong di depan Ibu Menteri dan undangan lain,” kata Naufal kepada Tribun-Medan.com, di kediamannya di Desa Kampung Baru, Kota Langsa, Aceh akhir Juli lalu.

Bagi Naufal, penghargaan ini menjadi penyemangat kembali dirinya untuk terus menyempurnakan listrik pohon kedondong temuannya, terutama pasca kontroversi yang sempat hadir di publik. Naufal menceritakan, dirinya memang sempat patah semangat saat listrik pohon kedondong temuannya menghadirkan kontroversi di tengah masyarakat. Penerapan listrik pohon kedondong di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur lah jadi awal cerita. Pada pertengahan tahun 2016, setelah listrik pohon kedondong temuannya meraih prestasi di lomba Teknologi Tepat Guna yang diselenggarakan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) se-kota Langsa dan se-provinsi Aceh, Pertamina EP Aset I Field Rantau pun tertarik dan menggandengnya untuk terlibat dalam program corporate social responsibility (CSR) Pertamina di Desa Tampur Paloh. Saat menemukan listrik kedondong tersebut, Naufal masih duduk di kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSn) 1 kota Langsa.

Di desa yang berjarak 512 kilometer dari kota Banda Aceh dan dihuni seratusan kepala keluarga ini, CSR Pertamina bekerja sama dengan Yayasan Anak Merdeka mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Merdeka dan membangun tiga ruang kelas dan satu ruang perpustakaan pada pertengahan tahun 2016. Ruang kelas dan perpustakaan inipun turut digunakan oleh SMP Merdeka yang telah lebih dulu berdiri tahun 2007 di bawah pengelolaan Yayasan Anak Merdeka. Di yayasan ini ada 50 siswa SMP dan 46 siswa MA. Sama sekali tak ada listrik di desa ini. Untuk penerangan, warga mengandalkan genset dan lampu teplok.

Bersamaan dengan pembangunan ruang kelas dan perpustakaan, Pertamina pun meminta Naufal untuk memasang listrik pohon kedondong di lokasi sekolah. Tujuannya, agar penerangan di sekolah terpenuhi. Sekitar 50-an pohon kedondong pun dibawa dari kota Langsa ke Desa Tampur Paluh. Supriaman (46) ayah Naufal yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi reparasi peralatan elektronik dan memang sejak awal terlibat membimbing Naufal, ikut ke Desa Tampur Paluh.


SISWA sekolah Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur sedang belajar di kelas. Di sekolah inilah listrik pohon kedondong pagar pernah diterapka (diujicoba). 

Proses instalasi listrik pohon kedondong di sekolah Yayasan Anak Merdeka berjalan lancar. Listrik pohon kedondong hidup dan menerangi seluruh ruangan yang ada di sekolah Yayasan Anak Merdeka. Ada lima ruangan kelas, satu ruang perpustakaan dua tingkat, dan dua ruang asrama yang mampu diterangi listrik pohon kedondong. Namun, karena penemuan masih dalam tahap awal, listrik pohon kedondong pun belum bisa menyala dengan maksimal.

“Listriknya beberapa jam bisa hidup. Tapi kemudian redup kembali. Tetapi untuk penerangan ruangan sudah mencukupi,” kata Andrew, PT Pertamina EP Asset 1 Government & PR Astman.

Adrew mengatakan, karena jarak tempuh kota Langsa dan Desa Tampur Paluh yang tidak dekat dan transportasi yang tidak mudah, maka Pertamina pun membangun Bengkel Listrik Kedondong di desa tersebut sebagai pelengkap keberadaan listrik pohon kedondong. Dengan hadirnya Bengkel Listrik Kedondong, maka ketika listrik bermasalah, Naufal tak harus datang dari rumahnya di kota Langsa ke Desa Tampur Paluh.

“Jadi ada beberapa pemuda yang dilatih untuk memperbaiki listrik pohon kedondong saat listrik bermasalah. Artinya saat Naufal tak ada di Desa Tampur Paluh, warga bisa memperbaikinya secara mandiri,” kata Andrew.

Keberadaan listrik pohon kedondong di sekolah Yayasan Anak Merdeka ini pun dibenarkan Rahmat Rizki, kepala sekolah MA Merdeka. Rahmat mengatakan, sejak dirinya menjadi kepala sekolah tahun 2010, seluruh ruangan yang ada di sekolah praktis mengandalkan genset atau lampu teplok. Namun, ketika CSR Pertamina membangun ruang sekolah dan memasukkan listrik pohon kedondong, penerangan di sekolah pun teratasi.

Untuk penerapan listrik pohon kedondong, sekolah Yayasan Anak Merdeka ditanami 50-an pohon kedondong. Setiap enam pohon kedondong mampu menghidupkan dua bola lampu. “Listriknya hidup beberapa jam. Listriknya kami nyalakan mulai malam hari hingga subuh. Lalu malam hari dinyalakan kembali. Cukup membantulah untuk penerangan, terutama di malam hari,” kata Rahmat.

Sukses dengan penerapan di sekolah Yayasan Anak Merdeka, warga desa pun meminta kepada Pertamina agar rumah mereka dipasang listrik kedondong. Naufal pun menyanggupinya. Untuk tahap awal dipasang di 30-an rumah. Listrik di rumah warga sempat menyala untuk penerangan beberapa jam. Namun, sepeninggal Naufal, listrik kedondong pun padam. Dari sinilah kontroversi itu dimulai. Warga kecewa dan merasa dibohongi.

Rahmat mengatakan, padamnya listrik pohon kedondong di rumah warga juga terjadi di sekolah Yayasan Anak Merdeka. Diakuinya sekolah yang dipimpinnya merasakan listrik pohon kedondong sekitar satu minggu. Tetapi setelah satu minggu, listrik pohon kedondong tak berfungsi lagi.

Dikatakan Rahmat, pihaknya memaklumi mengapa listrik pohon kedondong akhirnya padam dan membuat kecewa warga desa. Keberadaan pohon, kondisi lingkungan, dan kualitas penemuan Naufal kemungkinan menjadi penyebabnya. Keberadaan pohon, kata Rahmat belum mendukung penuh ketersediaan produksi asam untuk menghasilkan listrik. Posisi Desa Tampur Paluh di pegunungan pun cukup mempengaruhi proses pertumbuhan pohon kedondong pagar yang dibawa dari pesisir. “Setelah ditanam di sini (Desa Tampur Paluh), pohonnya tidak tumbuh subur dan bagian atas pohon dimakan rayap. Mungkin hal ini yang membuat produksi asam pohon menjadi tidak maksimal. Apalagi kalau listriknya dipakai berkelanjutan, kadar asamnya pasti berkurang. Listrik ini (pohon kedondong) kan mengandalkan asam sebagai penghantar listriknya,” kata Rahmat.

Sedangkan dari sisi kualitas penemuan Naufal, Rahmat mengatakan, listrik pohon kedodong memang masih dalam tahap pengembangan. Dan hal ini sangat mereka maklumi. Sebagai daerah yang sama sekali belum dimasuki listrik PLN, kata Rahmat, pihaknya selalu menyambut baik apapun upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk penyediaan energi listrik di desa tempatnya tinggal, termasuk ketika Pertamina melalui program CSR nya memasang listrik pohon kedondong di sekolah Yayasan Anak Merdeka.

“Sebagai laboratorium, kami (sekolah) menyambut baik listrik pohon kedondong ini. Anak-anak juga senang karena sekolahnya sempat terang, ya walaupun pada akhirnya gelap kembali listrik pohon kedondong harus berhenti,” kata Rahmat.

Setelah program listrik pohon kedondong tak berlanjut, pemerintah setempat pun memanfaatkan keberadaan sungai dan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pembangunan PLTMH ini memanfaatkan program dana desa. Namun pembangunannya masih tetap didukung Pertamina dalam hal penyediaan fasilitas kabel. “Keberadaan PLTMH ini cukup membantu. Memang bukan untuk kebutuhan listrik yang berat-berat ya. Sementara masih untuk lampu dan mencas handphone. Sesekali menonton televisi juga bisa. Tapi pada intinya masih untuk peralatan listrik yang membutuhkan daya rendah,” kata Rahmat.


Pernyataan Rahmat terkait pengembangan listrik pohon kedondong ini pun diamini Andrew. Sebagai lembaga pemerintah yang ikut memperkenalkan Naufal dan listrik pohon kedondong ke Desa Tampur Paluh, Pertamina, kata Andrew tetap berkomitmen untuk mendukung Naufal sampai hari ini. “Listrik pohon kedondong ini adalah penemuan awal. Tentu saja masih banyak kekurangan. Dan kekurangan ini harus diperbaiki melalui pengembangan dan inovasi-inovasi lanjutan dari Naufal sendiri. Setiap bulan kami (Pertamina EP Aset I Field Rantau) tetap bertemu dengan Naufal, kami berdiskusi tentang listrik pohon kedondong dan energi lainnya. Kami berharap dengan pertemuan kami yang tetap intens ini, membuat Naufal tetap bersemangat untuk berinovasi,” kata Andrew.

Andrew mengatakan, dengan usia Naufal yang masih muda dan sudah mampu menghasilkan karya listrik dari pohon kedondong, maka Naufal adalah aset yang harus didorong untuk terus mengembangkan diri dan mengembangkan listrik pohon kedondongnya melalui berbagai inovasi dan percobaan.

“Sebagai negara dengan kebutuhan energinya belum merata, maka kita butuh energi alternatif yang dapat dimanfaatkan rakyat banyak. Energi alternatif itu telah dimulai oleh Naufal, meskipun hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Tapi, usia Naufal masih muda. Kami (Pertamina) percaya perlu proses yang panjang untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, tak cukup dua sampai tiga menit apalagi menghasilkan energi alternatif dari pohon kedondong. Karena itulah, kami mendorong Naufal untuk terus berkembang dengan ide-idenya,” terang Andrew.

Sementara itu, Naufal mengakui, listrik pohon kedondong temuannya memang masih belum sempurna. Naufal menegaskan, listrik pohon kedondong temuannya belum dapat menggantikan listrik 100 persen atau masih dalam batasan menghidupkan lampu (pencahayaan) saja. Meskipun hanya pencahayaan, tetapi bagi desa  yang sama sekali belum ada listrik, hal ini cukup membantu.

“Ada beberapa penyebab mengapa listrik pohon kedondong ini akhirnya nyalanya tidak stabil. Salah satunya adalah proses menutup lubang pohon yang belum sempurna. Minimal butuh waktu tiga bulan untuk menutup lubang pohon secara sempurna setelah alat elektroda dimasukkan ke dalam pohon. Setelah menutup dengan sempurna, barulah tidak terjadi kontaminasi dengan air hujan dengan asam pohon. Artinya pohon murni menghasilkan asam sebagai penghantar listrik. Jadi saat penutupan belum sempurna, pengambilan energi listrik kemungkinan sudah terjadi. Arus listrik pun tidak sempurna. Tapi Naufal akui, karena masih awal, listrik pohon kedondong ini pasti ada kelemahan, karena itulah Naufal masih harus terus belajar dan mengembangkannya,” kata Naufal.

Sebagai energi yang sederhana dan alternatif, Naufal memaklumi kekecewaan sebagian warga yang mencoba listrik pohon kedondongnya. Meski demikian, dirinya tak patah semangat untuk belajar. Penghargaan yang diterimanya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Perempuan RI menjadi titik balik semangatnya untuk menyempurnakan listrik pohon kedondong. Dirinya sudah memikirkan untuk menggunakan sebagian hadiah uang yang diterimanya dalam menyempurnakan listrik pohon kedondong.

“Selain penghargaan dari Ibu Menteri, Naufal juga dapat uang tunai Rp 8 juta. Naufal senang. Semoga hadiah uang ini bermanfaat bagi Naufal. Naufal sudah berpikir untuk memanfaatkan sebagian uang tersebut untuk menyempurnakan listrik pohon kedondong. Sisanya untuk bantu-bantu kebutuhan di rumah,” kata Naufal.

Naufal yang kini duduk di kelas 2 SMA Muhammadiyah 4 kota Langsa ini mengatakan, di sela-sela kesibukannya sekolah, dirinya terus melakukan eksperimen untuk listrik pohon kedondong yang masih tertanam di depan rumahnya yang sederhana. Setiap hari Naufal mengecek kondisi listrik pohon kedondong. Naufal memerika gelombang elektroda untuk memastikan tidak ada binatang ataupun air yang masuk.

“Naufal dengan dibantu ayah akan terus berusaha. Terus mempelajari kekuragan listrik pohon kendondong ini. Jujur Naufal masih membutuhkan biayayang tidak sedikit. Di luar pohon, Naufal masih butuh puluhan juta lagi untuk penyempurnannya. Sampai saat ini belum ada pihak yang janji untuk support. Tapi Naufal tak patah semangat. Naufal terus berusaha dengan kemampuan yang ada. Kalaupun Naufal saat ini harus jalan sendiri dulu, ya harus Naufal lakukan,” katanya.

Saat ditanya kemungkinan listrik pohon kedondong bakal berhenti karena dukungan yang terbatas, Naufal tidak mau berandai-andai. Naufal bertekad untuk terus menyempurnakan temuannya, dan itu tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Pengalaman Thomas Alfa Edison yang menemukan lampu selama bertahun-tahun, kata Naufal menjadi semangatnya untuk terus berusaha.

“Bagaimana akhirnya nanti, biarlah masyarakat yang menilai. Kalau saat ini belum berhasil ya tidak mengapa, semoga suatu saat nanti berhasil. Intinya, Naufal akan terus berinovasi dengan energi, hanya saja aplikasinya yang mungkin berbeda. Naufal ingin memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Bagaimana masyarakat mendapatkan energi secara adil dan merata, itulah tekad Naufal,” ujarnya.

Empat Pohon Nyalakan Satu Lampu

SUPRIAMAN (46), ayah Naufal mengatakan, sebagai media utama listrik, pohon kedondong pagar mudah ditemukan dan mudah pula ditanam. Tebang saja satu pohon kedondong pagar, lalu tanam kembali, maka pohon tidak akan mati. “Tidak sulit untuk tumbuh. Perawatannya cukup mudah. Pohonnya tersedia banyak di Aceh dan di daerah-daerah lain, hanya beda penamaan saja. Tapi ada dua jenis pohon kedondong. Kedondong rujak dan kedondong pagar. Nah, yang kita gunakan adalah kedondong pagar,” kata Supriaman.

Ukuran pohon kedondong pagar yang baik untuk energi listrik, kata Supriaman berdiameter 30 centimeter. Lebih dari 30 centimeter justru semakin baik. Untuk menghasilkan energi listrik, batang pohon kemudian diubangi (dibor) dan dimasukkan elektroda, yakni alat sejenis seng dan non tembaga. Dua alat inilah nantinya yang akan mengubah asam menjadi energi listrik.

Satu elektroda menghasilkan 0,5 volt-0,9 volt. Kalau disetarakan dengan watt, masih belum mencapai satu watt, atau masih di kisaran 1-1,5 miliampere. Artinya masih kecil. Jadi agar mencapai watt yang diinginkan, maka elektrodanya harus dipasang beberapa dan diparalelkan. Selanjutnya, dari elektroda arusnya diteruskan melalui kabel-kabel yang tersambung ke bola lampu dan dihidupkan. Kalau mau tahan lama, dayanya bisa disimpan di baterai melalui proses charging. Yang terpenting adalah, elektrodanya harus masuk dengan baik di dalam batang pohon agar asamnya tidak bercampur dengan air hujan.

“Di rumah (di kota Langsa), kami menyambung (menseri) elektroda di empat pohon agar tercapai sekitar 6 watt dan bisa menyalakan satu lampu. Hal inilah yang juga kami lakukan di sekolah Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Palu,” kata Supriaman.



NAUFAL Raziq dan listrik pohon kedondong pagar hasil temuannya. (TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI)

Naufal menceritakan, dirinya butuh waktu lama untuk menemukan energi listrik dari pohon kedondong. Bermula dari kesenangannya akan pelajaran IPA, dia menemukan teori bahwa buah yang mengandung asam bisa menghantarkan listrik. Dengan bimbingan ayahnya yang berprofesi sebagai teknisi servis peralatan elektronik, Naufal pun mencobanya pada buah kentang di tahun 2014. Dari pohon kentang, Naufal mencobanya pada pohon mangga, belimbing, dan asam Jawa. Ternyata, hasilnya tidak memuaskan.

Sulung dari tiga bersaudara kelahiran 20 Maret 2002 ini pun mencoba pada pohon kedondong pagar pada tahun 2015. Ternyata setelah melalui beberapa percobaan, Naufal menemukan hasil kadar asamnya mampu menghantarkan listrik.


Temuannya ini pun membawa Naufal diganjar berbagai prestasi diantaranya: juara harapan 1 Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat kota Langsa yang dilaksanakan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Langsa tahun 2014, juara 3 Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat kota Langsa yang dilaksanakan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Langsa tahun 2015, dan juara 2 Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Provinsi Aceh yang dilaksanakan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Aceh tahun 2015. Tahun 2017 lalu, Naufal pun berkesempatan bertemu Menteri ESDM Ignasius Jonan di Jakarta.

“Naufal juga mendapat beasiswa dari Pertamina sebesar Rp 65 juta melalui program CSR tahun 2016. Uangnya sudah ada di rekening Naufal. Kalau Naufal butuh untuk biaya sekolah, Naufal tinggal ambil saja dengan diketahui pihak Pertamina. Mudah-mudahan, beasiswanya cukup hingga Naufal kuliah nanti,” katanya.

Dukungan dan Pembinaan Intensif

SUPRIAMAN mengatakan, ke depannya, dia dan Naufal ingin ketika alat elektroda pada pohon kedondong pagar mampu menghasilkan listrik dengan capaian 80 persen, maka alat elektroda tersebut dapat diproduksi secara massal dan digunakan masyarakat, khususnya di daerah terpencil yang belum dimasuki listrik. Dengan demikian, keinginan seluruh masyarakat Indonesia untuk merasakan energi listrik secara adil dan merata dapat diwujudkan dengan listrik pohon kedondong ini.

Namun, Supriaman sadar bahwa listrik pohon kedondong belumlah sempurna dan masih membutuhkan banyak pengembangan hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan. Supriaman mengaku, dirinya tidak mau berharap terlalu besar, mengingat listrik pohon kedondong ini adalah program (proyek) Naufal yag tercipta dalam usia yang masih muda.

Sebagai orangtua, kata Supriaman, dirinya berada dalam posisi untuk terus mendukung anaknya baik secara moril dan materil dalam mengembangkan listrik pohon kedondong. “Kalaupun ada pihak-pihak yang bersedia membantu, kami menerimanya dengan tangan terbuka,” kata Supriaman yang mengaku sudah menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta untuk listrik pohon kedondong ini

Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi BPPT (B2TKE‎) Andika Prastawa mengatakan, hasil penelitian yang telah dilakukan pihaknya tentang listrik dari tumbuhan menunjukkan bahwa hasil produksi listrik belumlah memadai untuk memenuhi kebutuhan listrik.


Berdasarkan pengukuran yang mereka lakukan terhadap pohon kedondong pagar yang ditanam, diperoleh hasil bahwa keluaran sistem listrik pohon kedondong pagar masih dalam kisaran mili watt, dengan tegangan yang dihasilkan dalam skala ratusa‎n mili hingga satuan volt, serta arus dalam mili ampere.

Dari enam batang pohon kedondong yang dipasang masing-masing enam pasang elektroda Zn-Cu (seng dan tembaga) dan dirangkai seri-paralel, maka diperoleh pengukuran tegangan total sebesar 2,774 Vdc. Ujung rangkaian pohon ini kemudian dihubungkan pada converter arus searah agar batere tegangan 3,5 Vdc. Selanjutnya elalui inverter dihubungkan ke beban lampu LED 5 watt 220 Vac. Pada saat lampu dinyalakan, setelah 10 menit, terukur tegangan dari pohon energi turun dari 2,774 Vdc menjadi 1,870 Vdc.


Dengan laju penurunan tegangan seperti itu, diperkirakan 6 pohon kedondong tersebut hanya sanggup menghidupkan lampu tidak lebih dari 20 menit, dengan perkiraan energi sekitar 1,7 Wh/Watt hour (Wh), atau 1,7, Watt selama 1 jam.

Berdasarkan analisis di atas, dapat ditarik kesimpulan pohon kedondong ini dapat menghasilkan listrik dalam jumlah dan waktu yang yang terbatas. Dengan demikian pohon kedondong hanya dapat dijadikan salah satu sumber energi bagi peralatan yang membutuhkan energi rendah.

Terkait hal ini, kata, Andika, BPPT merekomenasikan agar Naufal diberikan perhatian dan pembinaan yang intensif sebagaimana mestinya, agar Naufal dapat berkembang kemampuan dan minat penelitiannya. Sementara itu, diharapkan kepada berbagai pihak agar menyikapi hasil percobaan tersebut secara wajar dan bijaksana, sehingga tidak memberikan beban harapan terlalu besar bagi percobaan listrik dari pohon kedondong ini. Hal tersebut dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan listrik khususnya di pedesaan.(*)





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.